Sepertinya dunia sudah mulai ngelantur. Hari minggu masih harus kerja juga. Lembur pula sampai malem. Kacruuut!!”
Tadinya mau update status Fb dengan keluhan macam itu, seandainya saja saya tak teringat pada sosok pak Tua penjual minyak tanah yang sering terlihat wara-wiri di sekitar kontrakan saya yang dulu (tadinya saya kira pak Tua itu penjual air bersih).
Pak tua dengan kulit mengendur serta sorot mata yang keruh. Yang dari sosoknya sedikit banyak kita bisa saja menerka betapa kehidupan telah begitu keras menempanya (sebab bisa jadi usianya memang tak setua seperti yang tergambar dari tubuh ringkihnya). Tentu saja ini berdasarkan kesoktauan saya saja (sebab bisa jadi juga pak Tua yang saya maksud tak pernah sedikitpun merasa didzalimi Tuhan. Justru malah sebaliknya, bahagia dan amat mensyukuri apapun yang digariskan Tuhan untuknya. Semoga saja begitu).
Pak Tua yang setia dengan celana kolor ngatungnya sehingga dengan leluasa kedua belah lututnya yang seolah tanpa engsel terekspos, juga kaos oblong lusuh bergambar Wiranto-Solahuddin Wahid (Aha, coba kita sama-sama menebak berapa umur kaos yang dipakainya?). Saya tak bermaksud melebih-lebihkan, tapi maaf, untuk membayangkan pak Tua itu mengenakan setelan yang lebih baik jujur saja saya kesulitan.
Pak tua yang sering kewalahan menarik roda berisi beberapa jerigen minyak tanahnya, saat melewati gajlugan, atau apa itu nama kerennya… mmm… oh, ya polisi tidur. Dan brengseknya, saya tak pernah mencoba berbaik hati untuk sekedar membantu mendorong jika kebetulan melihat. Cuma sekedar miris. Ah, tentu saja miris itu tak cukup. Kalau begitu maafkan saya pak Tua… (dan maaf pula pada kalian yang menganggap saya tega).
Lalu, apa pak Tua itu masih setia dengan profesinya? Berjualan minyak tanah? Pertanyaan itulah yang selalu mengusik saya. Tapi saya tidak lantas bermaksud mencari tahu jawabannya. Toh, untuk apa saya tahu jika tak berniat menolongnya.
Ok. Bagaimana kalau kita menerka-nerka saja…
Begini… Sebagaimana kita tahu semua telah ada program pemerintah (entah program bisnis bapak Yusuf Kalla) yang populer dengan nama konversi minyak tanah ke gas. Yang secara tidak langsung telah ‘memaksa’ pengguna minyak tanah untuk beralih menggunakan gas. Malahan tak sedikit yang malah turun ‘derajat’ dari pengguna minyak tanah menjadi pengguna kayu bakar (tanpa ada maksud sedikitpun mengecilkan pengguna kayu bakar, toh emak saya juga masih setia dengan tungku karuhunnya).
Konon katanya…. (ada baiknya saya izin dulu sama kang Endang Kurnia sebelum terjadi hal-hal yang tidak dinginginkan dikemudian hari karena dianggap melanggar hak cipta).
Baiklah saya ulangi. Konon katanya…. menggunakan gas akan jauh lebih hemat dibanding menggunakan minyak, meski pada kenyataannya tetap saja mencekik. Apalagi beberapa hari lalu harganya naik dan konon akan naik lagi dalam waktu dekat. Astagfirulloooh.
Lantas, bagaimana dengan pak Tua yang jadi objek cerita saya ini, apakah beliau masih menjual minyak tanah?
Maybe YES, maybe NO. Yang jelas saya tak pernah lagi melihatnya. Bukan lantaran saya telah pindah kontrakan. Pun sebelum pindah, sejak program konversi minyak ke gas itu, saya memang tak lagi melihatnya. Saya kira kalaupun pak Tua itu masih setia dengan profesinya, siapa pula yang hendak membeli minyak tanah yang harganya selangit?
Sekali lagi saya hanya bisa menerka-nerka. Mungkin iya pak Tua itu memang kehilangan mata pencahariannya. Dan kehidupannya semakin sulit. Malah bisa jadi game over. Amit-amiiit…
Tapi sebagai manusia yang masih punya nurani, saya mengharapkan kisah bapak Tua itu berakhir dengan ‘happy ending’. Dengan kata lain pak Tua mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik. Jadi juragan gas misalnya. Mari kita doakan sama-sama, dengan setulus hati tentunya…
Akhirnya saya hanya bisa mengurut dada. Tak apa-apalah hari minggu saya kerja. Dan lembur pula. Toh hari lain saya masih bisa libur. Saya harus selalu ingat, di luaran sana banyak yang membanting tulang tak kenal waktu dan tak kenal lelah tentunya. Bapak saya contohnya… Juga masih banyak yang hampur putus asa karena tak kunjung mendapat kerja. Oya, jadi teringat akhi Aap Alpian yang lagi hunting pekerjaan, udah setengah gila katanya, hahahaaa…. Kita do’akan juga yaa… Eit, bukan mendo’akan supaya cepat gila yaa… tapi semoga cepat dapat pekerjaan yang nyaman dan menghasilkan. Amiin…
Ehem… Makasih buat yang sudah bersedia meluangkan waktu mendengarkan celotehan saya, yang bisa jadi tak penting buat kawan sekalian… saya cuma kepingin ngobrol!
((@_^))